| 17 Agustus 2009. Tak terasa sudah 64 tahun bangsa Indonesia menyatakan merdeka. Sebenarnya agak janggal kalimat tersebut diucapkan, terutama pada kata ”tak terasa” dan ”menyatakan”. Tapi tentu, semuanya muncul bukan tanpa sebab. Tak terasa, karena selama rentang waktu tersebut, 64 tahun, bangsa ini masih berada dalam belenggu. Belenggu yang membuat sebagian masyarakat kita masih asing dengan istilah ”kesejahteraan”,”kemandirian”,”keadilan”, serta ”kemakmuran”. Kemerdekaan yang dipekikkan hanya muncul dan diwacanakan setahun sekali melalui upacara kenegaraan dan pidato presiden pada tanggal 15 Agustus. Kemerdekaan terasa sebagai sebuah ironi ditengah kondisi bangsa yang serba tergantung dari bantuan negara lain, yang bahkan sebagian kebijakan strategisnya adalah dikte dari negara pendonor bantuan. Disebut menyatakan, karena kemerdekaan yang kita kenal sekarang adalah pernyataan dari bangsa Indonesia sendiri, dalam hal ini pidato proklamasi dari Soekarno pada pukul 10.00 WIB 17 Agustus 1945, sehingga secara yuridis-relatif bangsa Indonesia sudah merdeka dan lepas dari kekuasaan asing. Continue reading |
Mencari Makna Kemerdekaan di Jalanan
Intellectual Capital dan Daya Saing Bangsa
Bangsa Indonesia seperti halnya dengan bangsa-bangsa lain di dunia saat ini dihadapkan pada berbagai tantangan pembangunan global. Harus diakui bahwa tantangan itu semakin lama tidaklah semakin ringan, akan tetapi justru berkembang menjadi semakin kompleks dan semakin beragam. Di sisi lain, globalisasi juga membuktikan bahwa hanya bangsa-bangsa yang memiliki daya saing yang kuat dan tangguh akan sanggup menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Bangsa yang kuat dan tangguh juga akan sanggup untuk mengubah berbagai tantangan itu menjadi peluang yang menguntungkan.
Modalitas Nasional Menuju Bangsa yang Maju
- Kekayaan alam yang sangat besar. Antara lain mencakup cadangan energi, yaitu batubara 90,5 milyar ton; gas alam 334,5 TSCF (Trillion Standard Cubic Feet), coal bed methane 453 TSCF; panas bumi 27.000 giga watt (40% cadangan dunia). Ketersediaan cadangan pangan (antara lain): padi (swasembada 2008), jagung (swasembada 2007), kedelai (target swasembada 2015), gula (swasembada 2009). Selain itu, bangsa Indonesia juga masih memiliki kekayaan keanekaragaman hayati (biodiversity) yang termasuk terbesar di dunia [Referensi: Dep.ESDM dan DepTan, Mei 2008].
- Capaian dan prestasi pembangunan khususnya di empat tahun terakhir. Beragam capaian pembangunan adalah modalitas nasional yang dapat kita jadikan pijakan untuk membangun negara yang maju. Antara lain: pertumbuhan ekonomi 6,4% (Semester 1, tahun 2008); rasio utang terhadap PDB (2008) 33% (terendah di seluruh Asia); Pendapatan Domestik Bruto bangsa Indonesia di tahun 2007 ini, termasuk peringkat 20 besar dunia [Referensi: Depkeu, 2008].
- Sumber daya manusia yang sangat besar, yaitu sebanyak 234.693.997 orang dan menduduki peringkat ke-4 dunia. [Referensi: BPS, Bappenas, 2007].
- Lokasi strategis,terletak diantara dua benua, yaitu Asia Australia serta dua samudera,Hindia dan Pasifik, membuat posisi Indonesia sangat krusial dan penting sebagai pintu gerbang perdagangan internasional. Continue reading
Menuju Pemilu yang Bersih dan Cerdas
Pemilu legislative akan diselenggarakan hanya dalam hitungan hari. Berbagai persiapan dilakukan oleh pihak penyelenggara; pengecekan kembali daftar pemilih tetap (DPT), pencocokan jumlah kertas suara dengan jumlah pemilih, pengkondisian keamanan, serta pendirian tempat pemungutan suara. Pada saat yang sama, iklan dari para calon anggota legislatif semakin intensif. Hampir di setiap sudut jalan terpampang wajah calon pengemban amanah rakyat itu. Begitu banyaknya, sampai-sampai ada anekdot bahwa kini pohon di sekitar jalanan telah berbuah baliho caleg.
Setidaknya ada tiga fungsi utama dari penyelenggaraan pemilu:
- Pemilu merupakan sarana politik untuk mewujudkan suatu lembaga negara yang representatif, akuntabel dan berlegitimasi.
- Penyelenggaraan Pemilu secara reguler merupakan sarana penyampaian aspirasi politik rakyat, pengisian jabatan politik kenegaraan oleh rakyat secara langsung & sebagai kontrol /evaluasi rakyat terhadap penyelenggara negara
- Melalui Pemilu diharapkan akan terwujud mekanisme yang mampu menjamin pergeseran kekuasaan (transfer of power) & kompetisi kekuasaan (power competition) di suatu negara secara damai & beradab
Pemilu kali ini memunculkan sebuah tantangan yang tidak mudah. Mulai dari adanya perubahan yang cukup signifikan terkait system serta teknis pelaksanaan pemilu. Jika dulu caleg include dan menjadi wewenang partai, maka sekarang caleg dapat dipilih secara terbuka, dimana probabilitas lolos tidaknya tergantung dari suara yang masuk ke caleg tersebut, tanpa ada campur tangan secara langsung oleh partai. Lalu masalah perubahan teknis pelaksanaan pemilu. Cukup sulit merubah kebiasaan masyarakat yang sudah familiar dengan istilah “coblos” menjadi “contreng”. Berikutnya, yang terpenting, ditengah segala perubahan dan terbatasnya waktu sosialisasi kepada masyarkat, pemilu tahun ini dituntut untuk menjadi pemilu yang lebih berkualitas, yang benar-benar demokratis. Maksud dari demokratis di sini adalah pemilu benar-benar merepresentasikan aspirasi masyarakat, tanpa ada manipulasi, tanpa ada kebohongan. Continue reading
Analisis posisi ulama melalui fatwa haram rokok MUI
| Untuk yang kesekian kalinya, para ulama yang terkumpul dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) ‘berhasil‘ meresahkan masyarakat. Belum selesai polemic yang mencuat akibat fatwa golput, kini muncul kembali keresahan akibat dikeluarkannya fatwa haram rokok. Keputusan ini dikeluarkan setelah sidang pleno Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia III di aula Perguruan Diniyyah Puteri, Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, Minggu (25/1/2009).
Secara umum MUI memfatwa, rokok makruh hukumnya. Hukum makruh dalam pengertian, akan mendapatkan pahala jika ditinggalkan, tidak berdosa jika dilakukan. Sementara di sisi lain MUI jaga memfatwakan rokok haram dilakukan untuk anak-anak, wanita hamil, ulama MUI dan merokok di tempat-tempat umum. Membingungkan Keresahan masyarakat selama ini tidak lepas dari fatwa ulama yang terkesan sepihak dan membingungkan. Bagaimana tidak, jangankan di tataran masyarakat awam, ternyata di tataran ulama yang bernaung di bawah bendera MUI sendiri masih terdapat kegamangan dalam mengambil sikap terhadap suatu wacana. Dalam kasus fatwa rokok ini misalnya, saat ketua komisi fatwa jatim menekankan untuk menghindari rokok, dengan mengatakan yang memperbanyak yang mubah harus dihindari dan makruh adalah hal yang Allah benci, ternyata ada ulama lain yang terkesan ‘meremehkan’ penghindaran terhadap rokok. Pimpinan sidang Komisi B-1 Amin Suma mengatakan umat tidak perlu bingung dengan fatwa MUI tersebut. “Hukum merokok itu TELAH JELAS, antara makruh dan mubah. Artinya, serendah-rendahnya makruh dan setinggi-tingginya mubah,” katanya. Jelas? ya, dengan range jawaban yang disodorkan, semuanya memang menjadi jelas, jelas membingungkan! Continue reading |
Jangan ‘Buang Sampah pada Tempatnya’
Judul di atas mungkin dianggap aneh oleh sebagian besar pembaca, kurang ajar, atau bahkan menyesatkan. Bagaimana tidak, sudah sejak kecil kita diajarkan, dibiasaan, diakrabkan, dan ‘dipaksa’ untuk menginternalisasi slogan ‘Buang sampah pada tempatnya’. Sebuah slogan yang menemani masa pre-elementary kita, ditekankan berulang-ulang dalam mata pelajaran adab serta pola hidup sehat, bahkan hingga saat ini, slogan dan nilai itu tak henti diajarkan, bukan dari ruang kelas lagi, tapi dari habit yang disepakati oleh masyarakat, menjadi paradigma, yang tersampaikan melalui peringatan dan tulisan-tulisan di sudut ruangan.
Lalu apa maksud dari judul di atas? Apakah hanya sekedar judul usil? Atau malah mengajak para pembaca meninggalkan habit yang selama ini telah melekat dalam keseharian kita? Menimbulkan kekotoran lingkungan? Menambah masalah yang dihadapi masyarakat? Jawabannya adalah relatif, tergantung dari sisi mana pembaca melihatnya. Continue reading
Mencari Pahlawan di Pemilu 2009
Menarik sekali menyimak perjalanan politik Indonesia hingga menjelang pesta demokrasi yang akan diselenggarakan pada tahun 2009. Banyak wacana, prediksi, dan harapan dimunculkan. Hal itu tak lain karena kesadaran bahwa pesta 5 tahunan itu adalah cermin yang tepat untuk melihat “wajah” Indonesia selama 5 tahun berikutnya. Berbagai program digelontorkan, visi dan misi dijabarkan secara gamblang, tak kurang janji-janji manis masih setia mengiringi langkah calon RI 1 yang maju dalam pesta akbar itu. Dari situ akan tampak, janji siapa yang lebih memberikan pengharapan, program mana yang lebih sesuai demi maju-kembangnya bangsa ini. Continue reading
Bung Tomo: Pahlawan Bukan (hanya) Sebuah Gelar!
Pembicaraan mengenai Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November berarti pembicaraan tentang sosok Bung Tomo. Memang, Bung Tomo dan Hari Pahlawan laksana dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan begitu saja. Dalam berbagai buku sejarah, nama Bung Tomo selalu disebut-sebut sebagai tokoh sentral pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Seruan heroik Bung Tomo dalam siaran radionya untuk menentang Belanda tertulis dalam sejarah Indonesia dengan tinta emas. Gaya khas pidato Bung Tomo yang penuh semangat selalu muncul di layar televisi. Pidato retorisnya saat itu mampu mengobarkan perjuangan rakyat Surabaya menghadapi kembalinya pasukan penjajah Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang membonceng tentara Sekutu. Continue reading